Asal Usul Air di Bumi


Sekitar 70 persen permukaan Bumi ditutupi air, inilah sebabnya Bumi dijuluki Planet Biru. Pernah kah kita bertanya, dari mana air sebanyak itu berasal? Bagaimana air begitu melimpah di planet kita sementara di planet lain hampir tidak ada?


Sebagian besar ilmuwan percaya, ketika planet Bumi terbentuk, sekitar 4.5 miliar tahun silam, planet ini kering dan berbatu. Teori ilmiah paling populer menyatakan, bahwa air tiba di Bumi dalam bentuk beberapa asteroid besar yang dipenuhi es. Ilmuwan yang lain menyatakan, air sebenarnya telah ada sejak awal pembentukan Bumi yang berasal dari awan gas yang membentuk tata surya.

Ada juga yang berpendapat, air di Bumi dibawa oleh komet-komet di awal pembentukannya.   Masih ada pendapat lain yang disampaikan, namun tetap saja ini adalah misteri yang belum sepenuhnya terpecahkan. Salah satu misteri yang paling rumit tentang planet kita.
Studi ini dilakukan Steven Desch dari Arizona State University, Amerika Serikat. Para ilmuwan mengklaim air Planet Bumi sebagian berasal dari nebula matahari. Nebula matahari adalah awan debu dan gas yang tersisa setelah terbentuknya Matahari.
Banyak ilmuwan secara historis mendukung teori bahwa semua air Bumi berasal dari asteroid. Karena kesamaan antara air laut dan air yang ditemukan di asteroid.

Air berasal dari Arteroid dan Meteor
Para ilmuwan yakin bahwa bumi pada awalnya adalah tandus dan kering. Sekitar 4,1 miliar tahun hingga 3,8 miliar tahun yang lalu, merupakan periode di mana bumi dihujani komet, asteroid, dan protoplanet. Komet dan asteroid yang tertutup lapisan es diperkirakan telah membawa air ke bumi yang kemudian menjadi lautan dan samudra. Sebagian besar ilmuwan beranggapan bahwa asteroid-asteroid tersebut kini telah kering.

Namun, observasi terbaru yang dilakukan oleh beberapa tim yang menggunakan teleskop inframerah di John Hopkins University, Maryland, dan The University of Central Florida, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa 24 Thermis, salah satu asteroid terbesar yang ada di sabuk asteroid utama tata surya, tertutupi oleh lapisan tipis bunga es.

Pendeteksian dilakukan menggunakan teleskop inframerah di Mauna kea, Hawai. Tim pertama dipimpin Andrew Rivkin dari Johns Hopkins University, Maryland, dan tim yang lain dipimpin Humberto Campins, ahli astronomi di University of Central Florida. Dengan mempelajari spektrum cahaya yang dipantulkan dari asteroid tersebut tertutup oleh bunga es dan debu.

Sementara berdasarkan spektrum air yang konstan saat asteroid berputar, mereka menyimpulkan bahwa lapisan es tersebut tersebar merata di seluruh permukaan asteroid.
Informasi tentang hasil observasi ini pun dipublikasikan di situs berita The Times, yang ditulis oleh koresponden Hannah Delvin, pada 29 April 2010, dengan judul “New Evidence May Solve Mystery of The Origin of Water on Earth.”

Comments

Popular Posts