Belajar : Menjawab atau Bertanya ?


Foto : kuliahdimana.id

Bahwa logika belajar adalah sederhana yaitu bertanya bukan menjawab.

Pada dasarnya pengertian pendidikan (UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, epribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.

Lalu apa belajar itu ?

Belajar adalah suatu aktivitas di mana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal”. Menurut Syaiful dan Aswan (2014:5)

Dari pengertian diatas, dapat kita ketahui bahwa belajar adalah proses menyerap atau masuknya informasi, pengetahuan ke fikiran agar yang awalnya tidak tahu menjadi tahu. Dan salah satu ciri menyerap informasi dan ilmu pengetahuan itu adalah banyak bertanya, bukan banyak menjawab. Logika dasarnya belajar adalah banyak bertanya bukan banyak menjawab, karena bertanya adalah proses dari tidak tahu ingin menjadi tahu. Kalau logika dasarnya adalah menjawab maka tidak sesuai dengan pengertian belajar dari tidak tahu menjadi tahu bukan ?

Mari kita tanyakan ke pihak sekolah, apakah selama ini siswa banyak menyerap atau tidak ? identifikasinya adalah apakah siswa banyak bertanya atau malah banyak menjawab ? atau adakah ruang untuk siswa bertanya ?  faktanya disekolah anak-anak lebih banyak menjawab daripada bertanya. Menjawab soal-soal di buku, menjawab PR, ulangan harian, ujian nasional.

Dan kapan siswa harus bertanya “belajar” ? penyebab kemandegan pendidikan di Indonesia adalah kecintaan berlebihan mereka pada ortodoksi. Sain berkembang dengan bertanya, bereksperimen dan analisis kritis. Tetapi tidak ada data Indonesia yang tersedia untuk mengukur keterampialan ini (bertanya, dll).

Bertanya adalah orisinil, artinya kita beraksi bukan bereaksi. Sedangkan menjawab adalah bereaksi. Misalkan, kenapa kita harus belajar matematika ? ketika kita bertanya maka otak kita sedang berproses untuk mendapatkan informasi tertentu, dan itulah hakikat dari berlajar. Sedang guru yang menjawab “kenapa kita harus belajar matematika” adalah berekasi, ia menjawab, ia menunjukkan kecerdasan tapi tidak mengasah kreatifitas. Dan ditambah lagi bahwa menjawab adalah mengumpulkan memori yang ada didalam otak yang kemudia disampaikan.

Elizabeth pisani dalam jurnalnya mengatakan, dari 72 negara/ekonomi dalam survey, siswa Indonesia adalah yang paling kecil kemungkinannya untuk menganggap sains sebagai proses kritis dan interaktif. Mengapa guru gagal menghidupkan pembelajaran yang interaktif di kelas ? karena pengalaman merekapun saat menjadi siswa, mahasiswa, maupun pelatihan sebagai guru adalah sama, tidak interaktif (shintia revina).

Tahun 2014, bang dunia menemukan bahwa hanya sekitar 10% pembelajaran yang dialokasikan untuk kegiatan diskusi oleh guru di kelas. Guru terlalu banyak berbicara materi.

Maka kita kembali lagi, bahwa logika belajar adalah sederhana yaitu bertanya bukan menjawab.

 

Comments

Popular Posts