BELITUNG : Timah dan Masa Depan Generasi Muda



Bagaimana jika ada masyarakat yang punya sumber ekonomi bagus mudah mencari dan menjual sumber ekonomi tersebut -seperti timah- sekaligus punya kultur masyarakat yang cinta damai, rendah tingkat pencurian atau mengambil hak orang lain, apakah mereka perlu pendidikan ?

Setelah hari raya umat islam selesai dan saya harus pulang ke Jakarta karena urusan S2 di UIN dan mencari pekerjaan baru yang lebih baik, saya dan teman lama merecanakan untuk mampir dulu ke Bangka Belitung yang sebenarnya saya tidak tau apa-apa tentang dua pulau itu namun atas dorongan teman dan melihat keindahan alamnya baik lewat google atau ingatan tentang film laskar pelangi maka saya menyetujui pulau Bangka Belitung untuk  menjadi pulau pertama yang saja kunjungi dengan alasan melihat pesona keindahan Indonesia.

Awalnya yang direncanakan adalah hanya untuk liburan saja, dengan list kunjungan yang semua berkaitan dengan wisata dan tak ada list yang berkaitan seperti penelitian atau semecamnya, yang sebenarnya sangat wajar untuk dilakukan, mengingat kami berdua adalah mahasiswa S2, saya berlatar belakang manajemen pendidikan dan teman saya berlatar belakang pertambangan sehingga penilitan sebenarnya menjadi keharusan kami saat menjadi mahasiswa S2.

Satu hari kami lewatkan dipulau Bangka tanpa hal apapun selain menikmati pantai dan berfoto, keindangan yang sempurna, bahkan menurut saya pribadi pantai yang kami kunjungi sangat unik, mungkin keindahan pantainya sama dengan pantai yang ada di gunungkidul, namun yang membedakan dan membuat keindahannya naik menjadi 150% adalah adanya ratusan batu baik kecil maupun besar yang ikut menghiasi setiap sisi pantai, letak batu itu terlihat berantakan namun jika diamati dengan serius tampak ada semacam deret fibonaci disana, susunan keindahan dari sesuatu yang tampaknya berantkan, banyak gold komposisi terlihat di setiap sudut.

Hanya sebentar kami menikmati pantai itu, sempat saya kirim foto-foto pantai ke salah satu guru saya di gunungkidul, guru saya juga terkesan akan keindahan pantainya, memang, bagi saya sendiri melihat pantai di Bangka seolah olah terhipnotis, namun kami harus bersiap menuju tujuan utama kami yaitu pulau Belitung.

Sore menuju magrib kami sampai di pulau Belitung, dengan menaiki kapal sekitar 4 jam dan teman saya tampaknya agak trauma dengan perjalanan kapal sejauh itu, dia bercerita kalau sempat mendaftar ikut semacam tour ke pelosok timur Indonesia, dan perjalanan awalnya dengan kapal selama 6 jaman, setelah merasakan perjalan kapal 4 jam dari Bangka ke Belitung tampaknya dia agak mengurungkan niatnya untuk perjalanan berjam jam diatas kapal lagi, katanya lebih baik jalur udara, tak apa bayar lebih mahal sedikit, saya sendiri melihatnya juga kasihan, melihat seseorang mabuk kapal sekaligus bingung mau bagaimana jadi saya coba mencari angin di dek, sekeliling hanya terlihat lair laut dengan suara kencang angin.

Saya naik turun melihat kondisi temen membawakan roti mungkin dengan roti perutnya terisi, kemudia teh, tiba-tiba anak kecil yang duduk di kursi depan kami menumpahkan satu botol air dan mengenai sepatu saya, dan pasti akan bau kalau tidak dikeringkan segera, saya beri anak kecil itu jajan, dan orang tuanya berterimasih.

Pak cheta, ayah dari anak kecil tadi, akhirnya saya ngobrol dan bertanya bagaimana orang-orang Belitung bertahan hidup, pak cheta berkata kalau kebanyakan warga di Belitung bertahan hidup dengan mencari timah, menanam sawit, lada, nelayan dan menjadi pemandu wisata. Saat itu, dia menjelaskan harga timah satu kilo tembus sampai seratus delapan puluh ribu, tapi akhir ini menurun menjadi seratus sepuluh ribu rupiah, timah bisa dicari di wilayah Belitung dengan mudah.

Selain tentang ekonomi, saya menanyakan makanan apa yang khas di Belitung, katanya boleh coba kopi di pinggir jalan, kopi tong jie, kopi dengan rasa khasnya, beliau juga menyarankan untuk mecoba kopi manggar yang katanya tidak kalah enak dengan kopi tong jie.

Di Belitung, kamar sudah kami pesan, dua kamar, banyak orang menawarkan jasa ojek dan kami mecoba mempertimbangkan ojek mana yang lebih murah, ojek oline atau ojek yang sedang menawarkan diri, kami harus berhemat mengingat masih ada lima hari lagi kami di Belitung, akhirnya kami putuskan untuk naik motor dengan biaya 40 ribu satu motor, dalam perjalan menuju penginapan saya ngobrol dengan bapak ojek motor kira-kira berumur 50 tahun lebih, beliau mengatakan kalau di Belitung ini sangat enak, masyarakatnya ramah-ramah dan mencintai kedamaian. Beliau menegaskan lebih baik hidup pas-pasan tapi damai dari pada bergelimang harta tapi bermasalah dengan orang lain, selain itu bapak ojek juga mengatakan kalau tidak ada pencurian di Belitung, motor yang kuncinya tertinggal pun akan tetap aman. Hal yang sama juga di katakana oleh ibu-ibu penjual pakaian di salah satu pantai, bahwa orang Belitung tidak suka mencuri, mencintai hidup damai.

Saya mencoba berfikir, apa yang membuat masyarakat memiliki kualitas semacam itu, sebagian besar tidak mau mencuri dan mencintai kehidupan yang damai. Apakah semua ini berkaitan dengan timah ? apakah masyarakat Belitung sudah mapan ? tapi para koruptor kelas kakap hartanya tidak hanya mapan tapi melimpah dan berita buruknya mereka masih mencuri, mencuri uang rakyat.

Saya bertemu dengan ridwan yang terlihat berumur duapulan tahun, beliau menjelaskan bagaimana pemuda yang ada di Belitung, menurutnya kebanyak anak muda Belitung lebih senang mencari timah atau kerja menjadi pemandu wisata daripada meneruskan pendidikan tinggi, katanya “kalau disini anak-anak lebih memilih buat cari uang, karena gampang, kita cari timah satu hari misal dapat 5 kilo, kali saja 200 ribu perkilo, itu sudah berapa ? dan sistemnya itu kita cari di tanah-tanah seperti hutan atau rawa dekat kebun sawit. Selain timah, anak-anak disini juga melirik pariwisata terutama tour guide atau sejenisnya”. Tidak dipungkiri, pantai dibelitung ini sangat unik, mungkin menjadi salah satu daerah yang patut saja kita sebut sebagai syurganya orang melayu.

Melihat banyaknya peluang mencari cuan dengan mudah, mungkin menjadi salah satu sebab anak-anak disini lebih memilih mencari cuan daripada sekolah toh apalagi kalau konsep bersekolah tujuan akhirnya untuk mecari cuan juga.

Menurut datapun, bahwa Belitung termasuk provinsi dengan korban kejahatan rendah dengan angka 0,41% tahun 2021, sekaligus membuat Belitung masuk dalam daftar 10 provinsi relative paling aman di Indonesia.

Ketika mengelilingi laut untuk snorkeling saya sempat berbicara singkat dengan bapak yang kapalnya kami sewa, ketika saya tanya bagaimana keadaan pendidikan di Belitung beliau sempat menyesal anaknya tidak mau masuk kuliah, tampak penyesalan diwajah bapak yang berharap anaknya sekolah tinggi.

Bahwa sebenarnya pendidikan adalah kebutuhan setiap manusia, dimanapun ia berada atau seperti apapun keadaanya. Negara yang ingin maju secara ekonomi harus berinvestasi pada pendidikan, suatu Negara dianggap maju kalu pendidikannya maju pula. Cara bahagia pula tidak dapat diraih jika tanpa pendidikan, walaupun kenyataanya Negara paling bahagia bukanlah Negara yang pendidikannya paling bagus, tp Negara yang tidak mementingkan pendidikan sangat jauh dari kebahagiaan, ekonomi, kesejahteraan dan keadilan.

 

 

Comments

Popular Posts